Seperti Apa Kehidupan New Normal? Begini Panduan Adaptasinya dari Para Ahli

Liputan6.com, Jakarta - Berkegiatan dan hidup di lokasi tinggal saja tidak dapat terus diterapkan hingga waktu yang tak ditentukan.
Melansir laman The Guardian, Rabu (27/5/2020), kehidupan mesti kembali laksana sedia kala untuk mengamankan kehidupan perekonomian, lantaran sampai saat ini saja tidak sedikit orang yang sudah menjadi pengangguran dampak pandemi Corona COVID-19.
Namun masalahnya, vaksin terhadap virus itu masih belum ditemukan. Maka dari itu, insan di semua dunia tetap mesti hidup bersebelahan dengan Virus Corona COVID-19. Inilah yang dinamakan dengan kehidupan new normal.
Harapan guna menghilangkan virus secara permanen memang dibuka dengan vaksin, namun tidak semata-mata tersebut saja.
"Jika dan saat kita mempunyai vaksin, yang kita dapatkan bukanlah bianglala dan unicorn (mengibaratkan keindahan)," kata Larry Brilliant, CEO Pandefense Advisory, yang memimpin program pemusnahan cacar dari WHO.
"Jika kita darurat memilih vaksin yang melulu memberikan perlindungan satu tahun, maka kita tentu akan mempunyai COVID-19 menjadi endemik, infeksi yang tidak jarang kali ada bareng kita," tambahnya.
Virus masih akan susah ditaklukkan dengan vaksin yang dilangsungkan bertahun-tahun.
"Akan lebih susah untuk menyingkirkan COVID-19 daripada cacar," kata Brilliant.
Jika seseorang yang mengidap cacar bakal dapat terdeteksi dengan jelas, sementara orang dengan penyakit Virus Corona COVID-19 bisa menyebarkannya tanpa mengetahuinya. Masalah yang lebih sulit ialah selama infeksi terjadi di satu negara, seluruh negara lain pun masih berisiko.
Seperti yang disebutkan David Salisbury, mantan direktur imunisasi di Departemen Kesehatan, "Kecuali anda mempunyai vaksin yang terdapat dalam jumlah yang tidak dapat diandalkan yang dapat diserahkan dengan paling cepat di seluruh komunitas di dunia, anda akan mempunyai celah di pertahanan bahwa virus bisa terus beredar."

Orang mesti beradaptasi dan kehidupan pasti akan berubah.
David Heymann, pemimpin tanggapan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap epidemi SARS menuliskan bahwa anda harus terbiasa dengan pengawasan ekstensif guna infeksi yang didukung oleh penahanan wabah secara cepat.
Masyarakat pun harus ikut memainkan peran mereka, dengan mempertahankan kelaziman cuci tangan, mengawal jarak fisik, dan menghindari pertemuan, terutama di ruang tertutup.
Yuen Kwok-yung, seorang profesor penyakit menular di Universitas Hong Kong, telah menganjurkan pemerintahnya bahwa seluruh jarak sosial bisa dilonggarkan tetapi melulu jika orang mengenakan masker di ruang tertutup laksana di kereta dan di lokasi kerja, dan bahwa tidak terdapat makanan atau minuman yang dikonsumsi di konser dan bioskop.
Di restoran, meja mesti dibentengi antara satu sama beda dan staf yang melayani akan mengekor aturan ketat untuk menangkal penyebaran virus.
"Dalam perspektif kami di Hong Kong, pemakaian masker yang dapat dipakai kembali dengan rajin dan benar ialah langkah yang sangat penting," katanya.
Sarita Jane Robinson, seorang psikolog yang mempelajari respons terhadap ancaman di University of Central Lancashire, menuliskan orang masih beradaptasi dengan "new normal" dan bahwa tanpa intervensi lebih lanjut - laksana denda sebab tidak menggunakan masker wajah - "kita dapat melihat orang pulang ke perilaku lama ”.
Heymann menuliskan terlalu dini untuk memahami bagaimana pandemi bakal berjalan.
"Kami tidak memahami nasib virus ini," katanya.
“Apakah bakal terus beredar sesudah pandemi kesatu? Atau akankah, seperti sejumlah virus pandemi lainnya, menghilang atau menjadi tidak cukup ganas? Itu anda tidak tahu," sambungnya lagi.

Post a Comment