Survei Unsyiah soal Tim Medis Corona: Ditolak Warga-Kurang Perlindungan - INFO BERITA PENTING TENTANG CORONA

Header Ads

Survei Unsyiah soal Tim Medis Corona: Ditolak Warga-Kurang Perlindungan



Banda Aceh - Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Aceh melangsungkan survei terhadap perilaku perlindungan diri energi kesehatan berhubungan pandemi Corona atau COVID-19 di Aceh. Apa hasilnya?

Survei dilaksanakan sang kesebelasan Tsunami and Disaster Mitigation Research Center ( TDMRC) yg adalah bagian menurut Satgas COVID-19 Unsyiah terhadap 1.132 narasumber berdasarkan 12 profesi kesehatan. Para energi kesehatan ini bertugas di layanan kesehatan publik di 23 kabupaten/kota pada Aceh.

Ketua kesebelasan Survey TDMRC dr Ichsan menuliskan hasil survei mengindikasikan 90 % narasumber merasa dirinya paling berisiko tertular virus Corona pada mengerjakan Di samping itu, beberapa besar responden pun mengaku ditampik masyarakat sebab diketahui menangani pasien virus corona.

"Beberapa keluhan yg dilafalkan sang Ikatan Dokter Indonesia (IDI) distrik Aceh mengenai adanya keluhan petugas medis yg ditampik sang penduduk kampungnya ketika akan pulang ke lokasi tinggalnya sehabis berlalu bertugas melayani pasien COVID-19 ialah benar adanya," kata Ichsan dalam penjelasan tertulis untuk wartawan, Selasa

Ichsan menyinggung penolakan tersebut menjadikan pemicu stres untuk petugas pelayanan kesehatan yg menangani pasien COVID-19. Di samping itu, beberapa besar responden pun menilai lokasi bekerja mereka belum memberi perlindungan maksimal berdasarkan virus corona.

"Di samping itu, lebih dari separuh (51 persen) narasumber merasa lokasi mereka bekerja belum menyerahkan perlindungan yg optimal untuk mereka supaya terhindari menurut COVID-19," jelas
Survei pun menerangkan 96 % responden membalas mereka nir jarang kali berupaya menambah perlindungan diri semenjak pandemi Corona merebak. Salah satunya dengan acapkali membasuh tangan.

Survei pun menyebut Alat Pelindung Diri (APD) yang sangat sering dipakai sang energi medis di Aceh ialah masker bedah (80 %) dan handscoon (55,7 %). Dalam survei ini pun disebut 77,9 % energi kesehatan yg sebagai narasumber masih kendala dalam mendapat  APD ketika bertugas.
Unsyiah juga menaruh sejumlah rekomendasi untuk Pemerintah Aceh. Salah satunya ialah Pemerintah Aceh wajib memastikan kesejahteraan semua energi medis.

"Pemerintah pun mengklaim kesejahteraan baik materil juga sosial untuk energi kesehatan khususnya mereka yang mengerjakan pelayanan atau penanggulangan wabah COVID-19 secara langsung," sebutnya.
Pemerintah pun diminta menaruh garansi kesehatan untuk tenaga medis menggunakan asuransi kemalangan kerja terbaik. Alasannya, semua tenaga medis mempunyai risiko kerja yang tinggi.

Pemerintah Aceh pun diminta menyiapkan premi garansi hayati untuk keluarga tenaga medis yang gugur pada menjalankan tugas penanganan pasien corona. Warga juga diminta nir mengucilkan semua energi medis.

"Melalui kajian ini, kita bercita-cita pemerintah dapat menaruh sokongan penuh untuk tenaga kesehatan. Begitu juga masyarakat, supaya nir mengucilkan mereka yg telah berusaha menghadapi pandemi ini," ujar Ichsan.

Tidak ada komentar